Isu perang dagang antara Cina dan Amerika
Serikat kembali menguat menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden
Amerika Serikat. Donald Trump berulangkali mengecam kebijakan dagang Cina dan
mengancam bakal menghukum Cina dengan menaikkan pajak impor menjadi 45%. Donald
Trump telah menandatangani Surat Keputusan
sebagai jalan untuk menerapkan tarif perdagangan senilai US$ 60 miliar atau
sekitar Rp 827 triliun bagi seluruh barang Cina yang masuk ke negara tersebut. Cina mencoba mengendurkan ketegangan, namun
Trump tetap bergeming.
Menurut Trump kepada
wartawan, tindakan itu sengaja dilakukan sebagai hukuman terhadap Cina yang
melakukan pencurian teknologi dan tekanan Cina kepada sejumlah perusahaan
Amerika Serikat agar menyerahkan teknologi tersebut. "Kami menjadi korban pencurian hak kekayaan
intelektual luar biasa oleh Cina," ucap Trump di depan wartawan, Kamis.
Sementara itu, Gedung
Putih menjelaskan kepada juru warta bahwa Presiden Trump akan meminta kepada
Kantor Perdagangan Amerika Serikat (USTR) untuk menerbitkan daftar produk yang
diusulkan dikenakan tarif dalam waktu 15 hari. USTR diperkirakan menyasar sekitar 1.300 produk
Cina yang bakal dikenakan tarif dengan nilai US$ 48 miliar atau setara dengan
Rp 662 triliun.
Tiongkok tak takut. Mereka justru membalas
dengan mengajukan 128 produk AS yang bakal kena tarif baru. Tapi belum
dijelaskan produk apa saja yang bakal kena tarif baru. Tahun lalu, impor
Tiongkok dari AS mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp400 triliun.
Trump menuding Cina memanipulasi nilai mata
uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen Amerika. Presiden Amerika
Serikat tersebut keliru ketika mengklaim Cina sengaja mempertahankan nilai
tukar Yuan agar lebih lemah ketimbang Dollar AS. Bank Sentral Cina saat ini
aktif mengucurkan uang demi menopang nilai Yuan dan menghadang arus modal ke
luar negeri. Namun juga studi terakhir menyebutkan Amerika kehilangan 2 juta
lapangan kerja sejak Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, WHO.
Selain mengumumkan
perang dagang dengan cara menaikkan tarif, Trump juga meminta kepada Menteri
Keuangan, Steven Mnuchin, membuat daftar pembatasan investasi Cina di Amerika
Serikat. Amerika Serikat mengalami defisit
perdagangan dengan Cina mencapai US$ 375 miliar atau sekitar Rp 5.169 triliun.
Hal itu mengakibatkan timbulnya pengangguran besar di AS. "Ini sebuah
defisit terbesar dalam sejarah negara kita. Ini di luar kontrol," kata Trump. Presiden terpilih AS berjanji akan mengembalikan
lapangan kerja yang hilang dengan menekan Cina. Namun Kementerian Perdagangan
di Cina memperingatkan perang dagang "cuma akan menciptakan penderitaan di
kedua negara." Cina pun bukan tanpa senjata. Cina bisa mempersulit
aktivitas dagang perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple, General Motors
dan Boeing. Selain itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa terganggu. Khususnya
ekspor produk agrikultur menjadi kepentingan petani AS yang sebagian besar memilih
Trump.
Untuk itu Cina baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu menggandeng mitra lokal. Faktanya sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Cina. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."
Meski begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina, dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.
Untuk itu Cina baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu menggandeng mitra lokal. Faktanya sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Cina. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."
Meski begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina, dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.
![]() |
Presiden Donald Trump
bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping, saat upacara penyambutan di
Beijing, Cina, 9 November 2017. REUTERS/Thomas Peter
|
Dampak Perang Dagang
Amerika Serikat dengan Cina
Pada dasarnya dampakdari perang dagang
kedua negara ini akan memberikan dampak terutama kepada masing-masing negara
tersebut. Cina akan merasakan dampak pada semua indikator termasuk
kesejahteraan, produk domestik bruto (PDB), lapangan kerja manufaktur dan
perdagangan. namun diantara sekian banyak dampak yang paling menonjol terdapat
pada perdagangan, produksi dan efek pekerjaan cukup moderat dan efek
kesejahteraan relatif lemah.
Sementara dampak yang akan didapat oleh
Amerika adalah kenaikan kesejahteraan, PDB dan manufaktur tetapi
merugikan pekerjaan dan perdagangan baik ekspor maupun impor. Jika Cina tidak
mengambil langkah untuk melakukan balas dendam maka hal ini akan memberikan
keuntungan Amerika pada sektor manufaktur dan produksi. Sebaliknya, jika Cina
melakukan pembalasan, maka Amerika akan mengalami penurunan pada sektor
manufaktur dan produksi.
1. Perang dagang antar kedua negara
yang merupakan ekonomi terbesar nomor satu dan dua di dunia itu memberikan
dampak yang luas, termasuk Indonesia dalam sektor baja dan alumunium. Karena kedua produk tersebut ikut
terkena penaikan tarif impor. Ia mencontohkan selama ini
Indonesia mengekspor bijih besi ke Cina dan negara panda itu
belakangan mendirikan pabrik pemurnian atau smelter di Indonesia.
"Itu bisa pengaruhnya harga turun, bisa juga naik," ujar Kalla.
2.
Bursa-bursa di dunia
langsung memerah Jumat kemarin. Bursa Efek Indonesia salah satunya. Pada
penutupan perdagangan Jumat (23/3.2018) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
melemah 0,68 persen atau turun 43.380 poin. Dana asing keluar dari bursa
Indonesia. Investor asing melepas saham mereka di semua jenis pasar. Nilainya
mencapai Rp1,06 triliun.
3.
Darmin mengatakan
bagi konsumen ini mungkin menguntungkan. Sebab, ada kemungkinan impor barang
konsumsi Tiongkok yang dilarang AS akan menyerbu Indonesia. Sehingga harga
barang menjadi lebih cukup murah.
4.
Bagi produsen, arus
barang impor tentu membuat produsen dalam negeri ketar-ketir karena khawatir
daya saingnya berkurang.
5.
Setelah pengenaan
tarif tinggi, negara pengekspor baja dan aluminium ke AS makin terbatas
aksesnya, dan mencari pangsa pasar baru termasuk Indonesia. Kondisi ini akan
membuat harga barang yang berbahan dasar baja dan aluminium di tanah air lebih
kompetitif.
Jika arus impor barang dari Tiongkok masuk ke
Indonesia, neraca perdagangan Indonesia dengan negeri asal Xiaomi itu akan
makin defisit. Neraca perdagangan adalah perbandingan ekspor impor dua negara.
Jika defisit, maka berarti Indonesia lebih banyak impor dari Tiongkok dibanding
ekspor ke Tiongkok.
Keterkaitan
Teori dengan Fenomena
Dalam
kebijakan perdagangan internasional terdapat kebijakan promosi ekspor yang
memiliki kelebihan serta kekurangan. Salah satu kekurangan atau kerugiannya
adalah makin kuatnya kebijakan proteksi oleh negara maju sebagai upaya memperoleh
dukungan politis. Kebijakan proteksi sendiri
merupakan usaha pemerintah untuk membatasi atau mengurangi jumlah barang
yang diimpor dari negara lain. Bentuk kebijakan proteksi dapat berupa tarif dan
kuota. Namun pada fenomena Amerika dengan Cina kebijakan proteksi dilakukan
oleh Amerika dengan meningkatkan tarif impor. Hal ini dilakukan tidak lain
untuk mendapatkan dukungan politis terhadap kegiatan yang dianggap Donald Trump
sebagai tindak pencurian teknologi dan tekanan Cina kepada sejumlah
perusahaan Amerika Serikat agar menyerahkan teknologi mereka. Amerika merasa menjadi korban pencurian
hak kekayaan intelektual luar biasa oleh Cina.
Referensi:
https://bisnis.tempo.co/read/1085800/jusuf-kalla-ingatkan-polri-soal-penanganan-penimbunan-beras
Chunding dkk. 2018. Economics Impacts of The Possible China-US Trade War. Journal of Emerging Markets Finance and Trade.
Charles dkk. 2014. Bisnis Internasional.Jakarta: Salemba Empat.
Chunding dkk. 2018. Economics Impacts of The Possible China-US Trade War. Journal of Emerging Markets Finance and Trade.
Charles dkk. 2014. Bisnis Internasional.Jakarta: Salemba Empat.
https://rezahezkia.files.wordpress.com/2014/05/presentation-bisnis-internasional.pdf


Tidak ada komentar:
Posting Komentar