Sabtu, 12 Mei 2018

SKENARIO PERANG DAGANG AS DAN CINA


Isu perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat kembali menguat menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Donald Trump berulangkali mengecam kebijakan dagang Cina dan mengancam bakal menghukum Cina dengan menaikkan pajak impor menjadi 45%. Donald Trump  telah menandatangani Surat Keputusan sebagai jalan untuk menerapkan tarif perdagangan senilai US$ 60 miliar atau sekitar Rp 827 triliun bagi seluruh barang Cina yang masuk ke negara tersebut. Cina mencoba mengendurkan ketegangan, namun Trump tetap bergeming.
Menurut Trump kepada wartawan, tindakan itu sengaja dilakukan sebagai hukuman terhadap Cina yang melakukan pencurian teknologi dan tekanan Cina kepada sejumlah perusahaan Amerika Serikat agar menyerahkan teknologi tersebut. "Kami menjadi korban pencurian hak kekayaan intelektual luar biasa oleh Cina," ucap Trump di depan wartawan, Kamis.
Sementara itu, Gedung Putih menjelaskan kepada juru warta bahwa Presiden Trump akan meminta kepada Kantor Perdagangan Amerika Serikat (USTR) untuk menerbitkan daftar produk yang diusulkan dikenakan tarif dalam waktu 15 hari. USTR diperkirakan menyasar sekitar 1.300 produk Cina yang bakal dikenakan tarif dengan nilai US$ 48 miliar atau setara dengan Rp 662 triliun.
Tiongkok tak takut. Mereka justru membalas dengan mengajukan 128 produk AS yang bakal kena tarif baru. Tapi belum dijelaskan produk apa saja yang bakal kena tarif baru. Tahun lalu, impor Tiongkok dari AS mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp400 triliun.
Trump menuding Cina memanipulasi nilai mata uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen Amerika. Presiden Amerika Serikat tersebut keliru ketika mengklaim Cina sengaja mempertahankan nilai tukar Yuan agar lebih lemah ketimbang Dollar AS. Bank Sentral Cina saat ini aktif mengucurkan uang demi menopang nilai Yuan dan menghadang arus modal ke luar negeri. Namun juga studi terakhir menyebutkan Amerika kehilangan 2 juta lapangan kerja sejak Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, WHO.
Selain mengumumkan perang dagang dengan cara menaikkan tarif, Trump juga meminta kepada Menteri Keuangan, Steven Mnuchin, membuat daftar pembatasan investasi Cina di Amerika Serikat. Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan dengan Cina mencapai US$ 375 miliar atau sekitar Rp 5.169 triliun. Hal itu mengakibatkan timbulnya pengangguran besar di AS. "Ini sebuah defisit terbesar dalam sejarah negara kita. Ini di luar kontrol," kata Trump. Presiden terpilih AS berjanji akan mengembalikan lapangan kerja yang hilang dengan menekan Cina. Namun Kementerian Perdagangan di Cina memperingatkan perang dagang "cuma akan menciptakan penderitaan di kedua negara." Cina pun bukan tanpa senjata. Cina bisa mempersulit aktivitas dagang perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple, General Motors dan Boeing. Selain itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa terganggu. Khususnya ekspor produk agrikultur menjadi kepentingan petani AS yang sebagian besar memilih Trump.
Untuk itu Cina baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu menggandeng mitra lokal. Faktanya sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Cina. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."
Meski begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina, dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.
Presiden Donald Trump bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping, saat upacara penyambutan di Beijing, Cina, 9 November 2017. REUTERS/Thomas Peter
Dampak Perang Dagang Amerika Serikat dengan Cina

Pada dasarnya dampakdari perang dagang kedua negara ini akan memberikan dampak terutama kepada masing-masing negara tersebut. Cina akan merasakan dampak pada semua indikator termasuk kesejahteraan, produk domestik bruto (PDB), lapangan kerja manufaktur dan perdagangan. namun diantara sekian banyak dampak yang paling menonjol terdapat pada perdagangan, produksi dan efek pekerjaan cukup moderat dan efek kesejahteraan relatif lemah. 
Sementara dampak yang akan didapat oleh Amerika adalah kenaikan kesejahteraan, PDB dan manufaktur  tetapi merugikan pekerjaan dan perdagangan baik ekspor maupun impor. Jika Cina tidak mengambil langkah untuk melakukan balas dendam maka hal ini akan memberikan keuntungan Amerika pada sektor manufaktur dan produksi. Sebaliknya, jika Cina melakukan pembalasan, maka Amerika akan mengalami penurunan pada sektor manufaktur dan produksi. 
  
1.   Perang dagang antar kedua negara yang merupakan ekonomi terbesar nomor satu dan dua di dunia itu memberikan dampak yang luas, termasuk Indonesia dalam sektor baja dan alumunium. Karena kedua produk tersebut ikut terkena penaikan tarif impor. Ia mencontohkan selama ini Indonesia mengekspor bijih besi ke Cina dan negara panda itu belakangan mendirikan pabrik pemurnian atau smelter di Indonesia. "Itu bisa pengaruhnya harga turun, bisa juga naik," ujar Kalla.
2.     Bursa-bursa di dunia langsung memerah Jumat kemarin. Bursa Efek Indonesia salah satunya. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/3.2018) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,68 persen atau turun 43.380 poin. Dana asing keluar dari bursa Indonesia. Investor asing melepas saham mereka di semua jenis pasar. Nilainya mencapai Rp1,06 triliun.
3.     Darmin mengatakan bagi konsumen ini mungkin menguntungkan. Sebab, ada kemungkinan impor barang konsumsi Tiongkok yang dilarang AS akan menyerbu Indonesia. Sehingga harga barang menjadi lebih cukup murah.
4.     Bagi produsen, arus barang impor tentu membuat produsen dalam negeri ketar-ketir karena khawatir daya saingnya berkurang.
5.     Setelah pengenaan tarif tinggi, negara pengekspor baja dan aluminium ke AS makin terbatas aksesnya, dan mencari pangsa pasar baru termasuk Indonesia. Kondisi ini akan membuat harga barang yang berbahan dasar baja dan aluminium di tanah air lebih kompetitif.
Jika arus impor barang dari Tiongkok masuk ke Indonesia, neraca perdagangan Indonesia dengan negeri asal Xiaomi itu akan makin defisit. Neraca perdagangan adalah perbandingan ekspor impor dua negara. Jika defisit, maka berarti Indonesia lebih banyak impor dari Tiongkok dibanding ekspor ke Tiongkok. 


Keterkaitan Teori dengan Fenomena
          Dalam kebijakan perdagangan internasional terdapat kebijakan promosi ekspor yang memiliki kelebihan serta kekurangan. Salah satu kekurangan atau kerugiannya adalah makin kuatnya kebijakan proteksi oleh negara maju sebagai upaya memperoleh dukungan politis. Kebijakan proteksi sendiri  merupakan usaha pemerintah untuk membatasi atau mengurangi jumlah barang yang diimpor dari negara lain. Bentuk kebijakan proteksi dapat berupa tarif dan kuota. Namun pada fenomena Amerika dengan Cina kebijakan proteksi dilakukan oleh Amerika dengan meningkatkan tarif impor. Hal ini dilakukan tidak lain untuk mendapatkan dukungan politis terhadap kegiatan yang dianggap Donald Trump sebagai tindak pencurian teknologi dan tekanan Cina kepada sejumlah perusahaan Amerika Serikat agar menyerahkan teknologi mereka. Amerika merasa menjadi korban pencurian hak kekayaan intelektual luar biasa oleh Cina. 
Referensi: 


https://bisnis.tempo.co/read/1085800/jusuf-kalla-ingatkan-polri-soal-penanganan-penimbunan-beras
Chunding dkk. 2018. Economics Impacts of The Possible China-US Trade War. Journal of Emerging Markets Finance and Trade.  
Charles dkk. 2014. Bisnis Internasional.Jakarta: Salemba Empat.  
https://rezahezkia.files.wordpress.com/2014/05/presentation-bisnis-internasional.pdf
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKENARIO PERANG DAGANG AS DAN CINA

Isu perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat kembali menguat menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. D...